Selasa, 27 Agustus 2019

Seuprit Kisah LRT Palembang


Assalamualaikum semuanya, sesuai janji pada postingan sebelumnya saya akan berbagi cerita selama di Kota Palembang. Sebenernya termasuk sering sih dapat perintah tugas pelatihan di palembang. Kalau di ada pelatihan ke palembang bisanya ada jemputan tapi kali ini berbeda krena pindah tugas yah sebetulnya di jemput juga tapi saya memilih untuk naik transportasi umum aja lah.
Dibandara palembang untuk transportasinya termasuk banyak pilihan, kalau yang sepengamatan saya adanya taksi non online dan taksi online serta ada juga LRT. karena di kota saya sebelumnya tidak ada transportasi LRT ini jadi saya memilih untuk ketujuan saya menggunakan LRT dengan alasan apakah ini lebih cepet, efisien serta nyaman.
Jalan Menuju Ke Stasiun Masih Kurang Nyaman Dengan Barang Bawaan Banyak.
Pertama kali sampai palembang dengan barang bawaan yang sebetulnya tidak sedikit saya kok bisa – bisanya yah memilih memilih menggunakan LRT? apa karena saya sangat antusias mau naik LRT untuk pertama kali yah makanya saya malah memilih naik LRT atau karena saya mau pamer ke saudara – saudara saya kalau saya udah naik LRT, hahaha maklumin yah kalau saya udik.
Lanjut lagi yah, untuk menuju stasiun LRT dari pintu keluar bandara kita langsung saja ke arah kanan nanti perhatikan aja tanda – tandanya sangat jelas. kalau kita membawa banyak barang tentu saja akan kesusahan dikarenakan jalan menuju stasiun yang tergolong cukup jauh dan trolly tidak bisa di bawa sampai stasiun. Jadi sangat disarankan kalau kalian mau menggunakan transportasi LRT ini tidak banyak barang bawaan yah.
Jauh Dekat Cuma Rp. 10.000 yah sesuai lah . . .
Saat saya sampai ke stasiun suasana stasiun bisa di bilang sepi karena Cuma ada saya dan petugas – petugas saja yang ada. Pikirku apakah hanya aku yang naik ini LRT? yaudahlah langsung saja ke loket dan bertanya kalau “mba, kalau saya mau ke hatimu itu turun di stasiun apa yah?” dengan sigap mba nya jawab, mas plis kamu jangan bikin yang baca blogmu halu, hehe.
Jadi karena baru pertama naik LRT saya ditanya sama petugasnya mau tujuan kemana nanti kita akan di beritahu di stasiun mana kita akan berhenti. Terus saya bertanya berapa mba harga tiketnya?untuk ke tujuan mas ini hanya Rp. 10.000, saya nanya lagi misalnya saya mau ke paling ujung stasiun LRT ini brp mb? Sama aja kok mas, begitulah jawab mba petugasnya.
Waktu Tunggu dan Waktu Tempuh yang kurang pas!
Awalnya sampai di stasiun suasana sangat sepi, tapi perlahan penumpang yang lain berdatangan dan jarak saya beli tiket dengan mulai datangnya penumpang yang lain lebih kurang 20 menit dan kereta yang saya tunggu juga belum tiba, Karena pas saya tiba di stasiun keretanya baru saja berangkat. Mungkin itu kali penyebabnya saya sampai tadi sepi.
LRT Palembang ini memiliki 2 jalur kereta. Jadi kalau satu berangkat nunggu yang satu nya tiba. Sebetulnya ada jadwal kapan kereta itu tiba ataupun berangkat. Tapi dari jarak sayang menunggu sampai keretanya tiba dibisa dibilang cukup lama karena untuk waktu tunggunya hampir 45 menit. Untungnya saat itu lagi ga buru – buru jadi ga masalah nunggu agak lama.
Nah, selain waktu tunggu yang kurang efektif untuk kalian yang suka buru -  buru, waktu tempuh dari stasiun bandara ke stasiun yang mau saya tuju juga tergolong lama. Karena biasa dijemput pakai mobil dan sudah ditambah beberapa titik macet di palembang malah bisa di bilang lebih cepat menggunakan mobil ketimbang LRT ini.
Bersih dan Nyaman Loh
Ketika kereta tiba semua orang mulai mengambil ancang -  ancang untuk masuk kedalam kereta. Tapi sebelum masuk petugas mempersilahkan yang keluar kereta dahulu lewat semua baru bisa masuk, sebetulnya ini paling bener biar ga senggol-senggolan kan yah.
Ketika orang rebutan mau masuk saya sih santai aja maklum barang bawaan lumayan ribet kalau mau rebutan masuk secara gerbongnya juga banyak jadi ga takut kehabisan tempat duduk. Suasana didalam kereta yang begitu dingin dengan pemandangan kota palembang setiap perjalanannya sangat menarik dan nyaman lah selama perjalanan.

Jadi kesimpulannya naik LRT ini untuk kalian yang memang penasaran seperti saya ini boleh lah di coba transportasi ini selain bisa buat santai bisa melihat kota palembang dari atas LRT.  semoga kita berjumpa di cerita selanjutnya dikota palembang yah.


Share:

Senin, 29 Juli 2019

Hai Kota Palembang


Assalamualaikum, salam semuanya buat pembaca cerita jani (nampak saya mulai halu). Sudah lama sekali tidak berbagi cerita, maklum masih banyak yang numpuk di draft tapi ga di post (alasan hahaha). Kalau dua tahun yang lalu saya bercerita tentang jalan-jalan di pulau bangka (padahal cuma seuprit aja cerita pulau bangka). Mungkin saat ini saya sudah pindah domisili kerja alias mutasi ke palembang.

Mungkin nanti akan berbagi ceritalah tentang gimana sih jalan – jalan di kota palembang yang tentunya kota ini sangat berbeda dengan kota pangkalpinang (ya iya dong beda jauh lah). Tapi sebelum saya tau akan di mutasi ke kota palembang, mungkin sudah banyak rumor yang tidak sedap dari kota ini seperti perampokan, pencurian, pembunuhan dan lain sebagimacamnya.

Mungkin sekian dulu kali yah pembukaannya, insya allah kalau ada waktu senggang akan lanjut lagi bagaimana jalan – jalan di kota palembang ini.

Share:

Jumat, 02 Februari 2018

Karimun Jawa Bercerita

Karimun Jawa mungkin tidaklah asing lagi bagi sebagian orang. Ya, pulau kecil yang terletak di utara kota jepara ini memang sudah memikat banyak orang untuk berkunjung kesana. Awalnya sih, saya tidak begitu tertarik untuk kesana karena dipikir-pikir, toh sama saja yang dinikmati cuma pasir pantai dan air laut. Tapi, ternyata pikiranku itu terlalu sempit. haha.

keraguan berangkat ke Karimun Jawa.
Lima hari sebelum memutuskan untuk berangkat ke Karimun Jawa. Teman saya mengajak backpacker-an ke sana. Wow, ini sebuah ajakan yang tidak main-main untuk saya karena tabungan saya tidak banyak dan saya pengangguran yang bermartabat. Kelamaan mikir akhirnya dia berangat duluan. Tapi, dalam hati saya nyesel nih kalo gak pergi karena kesempatan kayak gini gak dateng dua kali. 

Dua hari setelah teman saya berangkat dia mengabari lagi "ayo, jadi nyusul ga?". Berangkat aja dulu sama pastiin uang transport pulang pergi ada. Singkat kata setelah dapet kabar dari teman yang sudah sampai disana malamnya langsung saya beserta teman lain berangkat kesana juga.

Perjalanan dari Jogja ke pelabuhan Jepara

Ada baiknya sebelum melakukan perjalanan ke karimun jawa kita mencari informasi di media sosial atau teman tentang jadwal kapal fery yang menyeberang. karena, ketika kita tau jadwal berangkatnya kapal very kita bisa mengestimasi kapan kita mau berangkat dari tempat (asal) berangkat kita. waktu tempuh dari jogja ke pelabuhan jepara lebih kurang 4 sampai 5 jam soalnya ini tergantung mood sopirnya, hehe.

Antrian yang berharap kepada Sang Maha Kuasa
Pukul 5 subuh sampai di pelabuhan Jepara suasana sepi dan gelap karena loket baru buka pukul 6 pagi. Aku berpikir masih bisalah kami untuk sholat subuh dulu sebelum membeli tiket kapal, toh sholat ga lama kok. Tapi apa yang terjadi setelah kami sholat subuh?. Antrian tiket sudah mengular dan loketnya sudah buka. Hmmm. Kok terasa aneh yah? apa aku kepanjangan doa abis sholatnya.

Sudah buru-buru ke loket tiket tiba-tiba datang seorang bapak dengan kain sarung, baju kusut dan iler masih nempel langsung serobot antrian dan cuek aja walau ditegur. Selain bapak yang serobot antrian, ada tipikal yang nitip tiket ke beberapa orang yang antri dan saya menduga pasti bapak ini calo tiket, haha. Sebenernya kami itu pasti akan kebagian tiket karena kami ke karimun bukan pas weekend cuma gemes aja dengan tipe-tipe orang kayak gini.



Empat jam di dalam kapal dan makan siang di Karimun Jawa
Waktu tempuh dari pelabuhan Jepara ke pelabuhan Karimun Jawa lebih kurang 4 jam. jadi, kalau kapalnya berangkat dari pelabuhan jepara pukul 8 kemungkinan kalian akan sampai disana pukul 12 siang. sudah terbayangkan 4 jam dikapal tanpa bisa ngapa-ngapain selain ngupil, salto, maen congklak tiba-tiba kalian mendengar suara bapak-bapak manjah ngasih kode kalo sudah mau sampe.

Inget kan di cerita awal temen yang mengajak ke karimun, betul dia sudah menunggu kedatangan kami di penginapan yang tak jauh dari pelabuhan Karimun Jawa. Jujur saja saat itu fokus kami bukan pada jemputan atau dmn kami menginap tapi dimana beli makanan saat itu karena laper banget walau sudah beli bekal sebelum berangkat.



setelah berjalan dari pelabuh menuju penginapan sekedar menaruh tas aja, kami langsung pergi ke "foodcourt" yang ada di alun-alunnya Karimun Jawa. ini fouod court bukan sembarangan loh. disini menu sea foodnya lengkap dan porsinya banyak. pemandangan food court ini pun langsung laut, untuk harga pun masih terjangkau banget.
Tour darat dan tour laut.
Selesai makan siang kami langsung menikmati tour darat yang ada di karimun jawa. adapun salah satu lokasi tour daratnya adalah kawasan hutan mangrovenya yang begitu luas tapi asik untuk ditelusuri. Adapula bukit love yang konon katanya di kelola oleh orang sana menyediakan banyak tempat-tempat untuk berfoto yang instagramable. tak lupa menikmati sunset di landmark pelabuhan karimun jawa.
Taman Hutan Manggrove Karimun Jawa


kalo saya cerita tour lautnya pasti kalian sudah pada bisa menebak dong yah. yes, tour lautnya tak jauh-jauh dari snorkling dan diving. selain yang saya bilang itu di Karimun jawa kalian bisa bermain di penangkaran ikan hiu. penakaran ikan hiu ini kalian bisa berenang bareng ikan hiunya tapi tanpa jaminan kalo tiba-tiba hiunya nerkam kalian. haha


gimana sudah kebayang dan greget belum kalian mau liburan ke karimun jawa? kalau udah aku mau diajak juga dong.
Share:

Selasa, 11 Juli 2017

Libur Lebaran di Jogja

Jogja, kota yang terkenal dengan slogan “jogja istimewa” ini telah  banyak sekali orang yang terpesona sesuai dengan lirik lagunya kla project “setiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa mana”. Betapa hangatnya suasana jogja bagi setiap orang yang mengunjunginya.

Kali ini saya kan bercerita libur lebaran di kota yang istimewa. Mungkin orang ada yang bertanya kenapa libur lebaran dijogja, di sana kan ga ada yang jualan baik makanan maupun transportasinya susah ketika lebaran. Nah berdasarkan penasaran orang itulah kenapa saya libur lebaran di Jogja untuk membuktikan bener ga sih kata mereka itu.

Di hari pertama lebaran suana di Jogja begitu sepi dari hiruk pikuk bunyi knalpot serta klason orang-orang yang hidupnya penuh dengan terburu-buru. Tapi ini hanya berlaku buat beberapa jam saja yah karena pengunjung yang ingin berlibur ke kota Jogja belum sampai di kota Istimewa ini, haha.

Saya memulai hari pertama lebaran saya dengan jalan-jalan di malioboro tempat yang pasti disinggahi kalau sudah di Jogja. Ketika bus transjogja ini berhenti di salah satu halte di malioboro ini saya melihat tidak banyak perbedaan sebelum dan pas lebaran. Masih banyak toko yang buka dan juga banyak loh turis-turis luar negeri dari hari biasanya. So, aku ini sama seperti mereka juga kah? Haha.

Selain toko-toko yang buka, ternyata buat cari makan pun tak sulit mulai dari pedagang kaki lima sampai pedagang yang jual sop kaki ayam dan sapi pun buka loh tinggal cek isi dompet mau beli yang mana. Cuma ada beberapa pedangan menambahkan catatan seperti “selama lebaran harga + 2000” catatan yang masih wajarlah yah di kala orang masih suasana lebaran dia tetap melayani orang malah libur.

Kalau mau jalan-jalan selain di malioboro bapak-bapak yang punya becak menawarkan paket wisata keliling dagadu, batik sampai toko oleh-oleh bakpia patuk pun ada. Ini menunjukan tanda alam bahwa toko-toko yang berada jauh dari malioboro pun buka.  lumayan kan dari pada harus liburan jauh-jauh tapi macet mending di malioboro dan sekitarnya menikmatinya sambil naik becak kan asyik apalagi sama pasangan.

Jadi, kalau mau ke jogja pas libur lebaran ga usah panik kalau semuanya ga ada. Mulai dari penginapan, transportasi, makanan dan toko-toko pun masih setia buka kok pas lebaran. Cuma ya itu tadi kalau harga lebih mahal sedikit, yah harap maklum yah. Namanya juga lagi lebaran kan uang THR nya bisa bagi-bagi ke penjual. Selama liburan tetap kalem dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Ok, Mohon Maaf Lahir Batin yah :* :*
Share:

Minggu, 28 Mei 2017

Merdu dan Syahdu, Hutan Pelawan Desa Namang.

Desa Namang, dahulunya banyak yang tahu akan desa ini karena ada salah satu wisata yang beda dari lainnya yang menyuguhkan keindahan pantai. Sedangkan desa ini jauh dari pantai. Warga desa ini pun banyak yang berkebun dan bersawah.  Berdasarkan informasi yang saya cari di google tahun 2010 dibuka lah tempat wisata yang beda dari desa yang ada di Bangka lainnya.

Wisata Hutan Pelawan, itulah nama tempat wisata yang ditawarkan oleh Desa Namang. Seperti yang bilang tempat ini sempat booming di tahun 2010 berdasarkan informasi yang di dapatkan di google yah. “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”  kira-kira begitu kata orang tua jaman dahulu.hehe. Saya termasuk bukan orang yang hitz untuk tempat destinasi wisata. Ketika tempat wisata itu baru dibuka saya tidak langsung kesana kok tapi nunggu moodnya baru berangkat.

Berjarak 52 km dari kota pangkalpinang. Tempat wisata ini tidak mudah ternyata untuk dicari. Tidak banyaknya rambu yang jelas jadi saya harus banyak bertanya kepada warga Desa Namang ini. Entah ini bukti keseriusan atau memang sengaja membuat konsep biar orang rajin bertanya jangan asal lewat aja  yang jelas sempat beberapa kali nyasar.

Jalan menuju hutan pelawan ini tergolong sangat bagus dan pemandangannya juga nyegerin, jalan ber aspal tanpa ada rusak, kiri kanan kebun dan ada juga sawah kadang juga kita melihat tempat permandian umum atau sungai yang bersih bisa memacu kita untuk langsung mau nyebur,hehe.
Ketika sampai disana saya melihat suasana sangat sepi padahal waktu itu saya sampai disana sekitar jam sebelas siang yang harusnya bisa lebih cepat karena hilang penunjuk arah seperti aku kehilangan dirimu, haha. Ada di benak sih kenapa sepi yah? Padahal kalau saya googling muncul gambar suasana ramai dan padat kayak otot ade rai.

Tidak ada biaya masuk ke wisata hutan pelawan ini. Saya cuma dikenakan biaya parkir sebesar tiga ribu rupiah dari yang jaga parkir. Padahal kalaupun di kenakan biaya masuk tidak mengapa toh membuka tempat wisata itu sebtulnya tidak lah murah biaya perawatannya. Sebelum saya masuk ke dalam wisata Hutan Pelawan ini saya mlipir dulu ke tempat informasi yang ternyata tak ada penjaga jadi cuma ada denah serta jenis binatang yang menjadi penghuni hutan.

Berarti fix tempat ini sebetulnya sudah tidak berjaya lagi untuk di promosikan ke orang lain. Apa yang saya dapat dari tempat informasi tidak mengurungkan niat saya untuk menapakan kaki serta berswafoto disini. Akses jalan di dalam Hutan Pelawan ini sebetulnya sangat bagus kenapa demikian karena jalan yang sudah disemen jadi tidak ada becek ketika hujan ataupun habis hujan.

Ada nama yang terukir di setiap batang pohonnya jadi kita bisa tahu siapa pemilik pohon ini, haha. Tadi itu contoh yang tidak baik sebetulnya, beneran di setiap pohon ada diberi label sehingga kita bisa tahu jenis dan nama pohon yang ada dihutan ini. Ada tempat pembibitan tapi nampaknya sudah tidak ada bibit lagi dan nampaknya ga ada bibit-bibit baru lagi.
Tanda pada pohon yang seharusnya tak perlu

Pada setiap jalan kita akan berpapasan dengan tong sampah yang mana sampahnya berceceran dimana-mana. Tapi untung udara disana masih segar jadi tak begitu berpengaruh lah sama sampah-sampah plastic tadi. Oh iya di dalam hutan ini ada disediakan toilet tapi airnya kita harus menimba sendiri sebelum berhajat. Tapi apa daya wisata hutan pelawan ini sudah tidak berjaya lagi jadi ketika mau ketoilet satu-satunya yang ada didalam hutan ini kita bakal menemukan banyak sampah masyarakat. Tapi, untung aja udara disini masih seger dan adem suasananya jadi tak begitu masalah lah.

Sampah plastik yg harusnya tidak ada.

Lupakan permasalahan dari marking yang ga jelas di pohon, sampah plastik
dimana-mana serta apalah itu tetek bengeknya saya terus berjalan akhirnya saya sampai juga di spot yang menjadi andalan orang kalau berswafoto. Jembatan merah begitulah orang bilangnya itu karena jembatan ini di cat warna merah, hehe.

Tidak semua jembatan ini masih layak karena banyak yang sudah ambruk dimakan oleh waktu serta beban orang tak kuasa menahan napsu makan. Jadi hanya beberapa meter saja jembatan ini yang masih bisa kita lalu untuk berswafoto dengan latar alam.
Beberapa bagian jembatan yang ambruk

Tapi saya melihat sudut lain dari tempat ini. Ternyata ditempat ini kita bisa mendengar bermacam-macam suara burung saling bersahutan terkadang juga ada burung dengan corak bagus bermain-main disekitar saya. Ditambah lagi angin yang sepoi-sepoi seakan-akan membuat minat saya untuk bangun rumah tangga, haha.  Oh iya, bagi kalian yang suka foto-foto burung disini tempatnya sangat cocok buat kalian gais!

Jadi, dibalik banyak minus-minusnya tempat ini mungkin karena kurang diperhatikan lagi kita bisa mendapat hal yang berbeda seperti  suara burung yang saling bersahutan dengan merdunya, bisa menenangkan diri disini juga karena suasana yang adem dan asri. Mungkin kedepannya pengurus mulai mau untuk mengelola atau menata ulang karena tempat ini wajib ada di pulau Bangka.




Share:

Rabu, 26 April 2017

Piknik Yuk Ke Pulau Putri Bangka

Pulau putri, ketika saya hendak menulis tentang pulai ini saya coba googling dulu, ada sekitar empat yang muncul. Pulau Putri sibolga, Pulau Putri kepulauan seribu, Pulau Putri batam dan Pulau Putri bangka. Kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya ke Pulau Putri Bangka. Pulau yang ingin saya kunjungi sejak abad masehi ini, haha baru bisa terealisasi sekarang. Kenapa baru terealisasi sekarang karena untuk sampai ke pulau ini kita harus tau kondisi air laut saat itu karena ketika air laut naik daratannya bisa tidak terlihat, gimana serem kan? Padahal biasa aja.

Pulau putri ini sempat ramai dua atau tiga tahun yang lalu karena masuknya kapal dari sebuah PT untuk operasi tambang timah laut. Akhirnya kapal itu cari lokasi lain untuk kegiatan mereka. Itu aja info yang saya tahu. Selain dari berita itu saya juga mencari informasi baik secara langsung maupun via media sosial tentang pulau putri yang ada di bangka ini. Kalau berdasar info dari teman atau media sosial mereka bilang ga rekomendasilah untuk berkunjung kesana.

Hasil pencarian informasi saya cuma untuk rasa penasaran saja sih terlepas baik atau buruknya informasi yang saya dapatkan saya tetap berangkat dong, hehe. Pulau putri terletak di utaranya pulau bangka dengan jarak tempuh sekitar 110 KM kalau dari kota pangkalpinang. Untuk menuju ke destinasi tersebut saya menggunakan google maps dan alhamdulillahnya sinyal sepanjang jalan lancar untuk provider warna merah. Atau jika kalian mau pergi kesuatu tempat baru menurut kalian ada baiknya download dulu map nya ketika tidak ada sinyal kalian sudah punya database untuk lokasi yang ingin kalian datangi.

Akhirnya saya sampai di Pantai Penyusuk. Pantai yang menjadi tempat untuk kita menyebrang ke Pulau Putri. Pantai Penyusuk ini juga bagus, bersih dan terawat jadi kalau tidak bisa menyebrang ke Pulau Putri kalian pun bisa menikmati suasana Pantai Penyusuk saja. Untuk menyebrang di kepulau ini kita tinggal menuju kapal atau cari informasi disekitar warung yang ada di Pantai Penyusuk.
Tidak begitu lama waktu untuk menyebrang dari Pantai Penyusuk ke Pulau Putri ini lebih kurang sepuluh menit sampai deh di Pulau Putri. Sebelum kapal menepi saya lihat kebawah terumbu-terumbu karang sudah terpampang jelas sekali jadi pengen langsung nyemplung aja bawaanya, hehe.
Setibanya di pulau putri saya disambut oleh air laut yang jernih dengan ombak yang tenang, batu granit yang besar pun seakan menyambut saya dengan hangat. Pulau putri ini hanya pulau kosong tapi memiliki terumbu karang yang beraneka ragam indahnya. Sebelum saya membahas tentang terumbu karangnya saya akan membahas suana di pulau ini.

Pulau Putri sebetulnya kecil sekali paling masih lebaran rumah yang dijual sama mbak penirose di tipi-tipi deh,haha. Pulau ini bersih, cuma sayangnya yang berjualan dipulau ini hanya di hari sabtu dan minggu saja. Jadi kalau kesini harus selain hari itu harus janjian sama yang punya lapak baik makanan atau persewaan ban dan lain-lainnya. Ada ruang ganti baju tapi tidak ada kamar mandi air tawar jadi habis main air laut kita harus mandi air tawar ke pantai penyusuk.
Pulau Putri Sehabis Hujan Tetap Ramai

Lupakan tentang minus tersebut yang jelas di pulau ini cocok untuk sekedar untuk merefresh otak dari hingar bingar suara kenalpot kendaraan. Terumbu karang yang indah disini adalah tawaran yang menarik dari pulau ini. Tak perlu ketengah laut untuk ber snorkling cukup berenang sedikit di pinggir-pinggirnya sudah bisa menikmati terumbu karangnya karena pulau ini sudah dikelilingi terumbu karang tapi ingat jangan sampai dipegang atau di injak yah agar terumbu karangnya tidak rusak.

Ikan-ikan kecil berwana warni pun banyak di sekitar terumbu karang dan juga ada ikan yang menjadi idola banyak orang. Ya, ikan badut atau para pemilik kapal sering bilang ikan nemo, dipulau ini banyak sekali rumah ikan tersebut tapi para pemilik kapal sebetulnya lebih enggan memberitahu karena sebelumnya ada orang yang iseng “merusak” tempat tinggal ikan tersebut.

Ada kebingungan juga dari orang yang memberikan tumpangan ke pulau putri ini ketika mereka ditanyakan apakah disini terdapat ikan nemo, karena dia tidak tahu apakah orang dia beritahu itu orang yang bisa menjaga atau tidak. Soalnya tidak semua orang yang ke pulau ini hanya bermain didarat atau basah-basahan manja karena ada juga yang ingin mengeksplore semuanya.
Rumah Ikan Badut

Mungkin dalam waktu dekat saya akan berkunjung kembali ke pulau ini karena pulau ini sangat rekomendasi menurut saya untuk bersantai sambil camping ataupun cuma pergi memancing saja. Mana tau kan ada dari kalian ada yang ingin ajak saya kesana dengan waktu yang sudah ditentukan bisalah kita bicarakan.




Share:

Minggu, 26 Maret 2017

Benteng Kota di Desa Tempilang

Tempilang, adalah desa yang berada di Pulau Bangka. Desa yang berjarak 72 km dari pusat kota Pangkalpinang terkenal dengan kegiatan perang ketupat di bulan Ruahan. Berdasarkan info dari seorang teman saya pun ingin mengunjungi tempat bersejarah yang ada di sana.

Saya menuju desa Tempilang dengan sangat mudah, karena medan menuju desa tersebut tergolong bagus dengan jalan beraspal. Selain itu, sinyal pada ponsel seluler pun lancar, sehingga saya bisa menggunakan google maps untuk memandu perjalanan saya. Alasan saya menggunakan google maps adalah untuk mencari jalan yang lebih singkat, karena bila mengikiti petunjuk lokal makan jarak tempuh akan mencapai 90 km. Jauh, kan? Tapi kalau kalian memilih untuk melalui jalan tersebut sih nggak masalah.

Sepanjang jalan kenangan, eh, maksud saya sepanjang jalan menuju desa Tempilang ini saya melihat hutan di kanan dan kiri jalan. Tak jarang juga saya melihat kebun milik warga. Saya pun melihat beberapa orang mandi di sungai yang aliranya jernih. Saya menjamin, bila perjalanan kalian menuju desa Tempilang ini tidak akan terasa bosan.

Sesampainya di desa tempilang ini kalian akan menyaksikan desa kecil tapi dengan fasilitasnya yang lengkap. Jika kamu kalau kehabisan bensin banyak yang jualan di sini. malah terkadang kamu juga menjumpai pom bensin mini, lho!. Kalau kamu lapar, dan butuh mau cari cemilan ada banyak mini market di sepanjang jalan. Inget mini market bukan warung yah, haha. mau cari jodoh pun banyak yang cantik cantik. Jadi jangan berpikiran kalo di desa itu sepi dan kurang menyenangkan gitu yah.

Masalah muncul ketika kita mau ke situs benteng kota ini. Google maps yang saya gunakan sebagai panduan tidak memberikan lokasi yang akurat. Jadi harus balik ke cara lama, kita harus bertanya kepada masyarakat sekitar. Syukurlah warga sekitar ramah dan tahu lokasi situs benteng kota yang akan saya tuju. Mereka pun sangat antusias memberikan direksi kesana secara tepat dan jelas.

View Benteng Kota - Tempilang
Setibanya di lokasi saya merasa takjub dengan kondisi Benteng yang nampak bersih. Namun sayang, saya tidak menemukan seorang pun di sana. Saya hanya berfikir apakah saya datang terlalu pagi? Atau mungkin pengunjung mulai ramai ketika sore hari? Entahlah.

Puing-Puing Benteng Kota 
Rasa penasaran saya terhadap bangunan yang kondisinya sudah tak utuh lagi ini belum terjawab. Saya tidak menemukan informasi yang konkrit perihal bangunan tersebut. Padahal kawasan di Benteng ini nampak terawat. Sangat disayangkan bukan?

Ketika saya melihat lebih dekat lagi, saya menemukan beberapa rumah keong dan siput pada reruntuhan bangunan tersebut. Diduga material bangunan atersebut berasal dari pasir pantai. Namun saya belum dapat menyimpulkan bangunan tersebut. Dugaan Benteng bisa jadi benar, karena tingginya tembok bangunan.

penampakan Rumah Keong dan Pasir pantai pada tembok 
Dinding yang tebal serta tinggi bisa saja ini serta bentuk-bentuk jendela yang besar bisa menguat kalau memang benar ini bekas peninggalan sejarah. tapi apakah fungsi dari bangunan ini dahulunya? sayangnya itu belum bisa terjawab oleh saya karena tidak mendapat informasi yang cukup.
Bekas Jendela

benteng kota di desa tempilang ini tempat yang rekomendasi untuk dikunjungi. selain tempatnya yang bersih dan terawat dan jarak tempuh pun tidak terlalu jauh. oh iya, tempat ini instagramable deh buat kalian yang suka foto maupun explore tempat baru. 

semoga kedepannya tempat ini dilengkapi dengan penjelasan/edukasi yang terpajang di sekitar situsnya agar para pengunjung yang datang bisa tahu sejarah dari situs tersebut


Share: