Sabtu, 11 April 2026

Touring ke Lahat: Menemui Tika dan Linda di Balik Kota Batu Bara

 Assalamualaikum, semoga yang membaca tulisan blog ini selalu diberikan kesehatan, amiin.

Kali ini saya ingin berbagi cerita pengalaman pertama saya "motoran" menuju Kota Lahat. Mungkin banyak orang mengenal Lahat karena kekayaan batu baranya. Benar saja, saat memasuki kota ini, pemandangan yang terlihat memang berbeda dari biasanya. Namun, bukan itu fokus utama cerita saya, melainkan tentang hewan bertubuh besar yang cerdas: Gajah Sumatera.

Persiapan dan Perjalanan

Perjalanan ini saya mulai dari Kota Palembang. Berdasarkan kalkulasi Google Maps, jaraknya kurang lebih 246 km. Waktu tempuhnya sendiri tergantung situasi, kemarin saya menghabiskan waktu hampir 6 jam di perjalanan.

Mengenai kondisi jalan, rute Palembang menuju pusat latihan gajah di Lahat ini tergolong variatif. Tidak semuanya mulus, tapi tidak juga rusak parah di semua titik. Namun, perlu menjadi catatan bagi pemerintah setempat agar segera memperbaiki bagian yang mulai rusak, karena jika telat, beban kendaraan yang lewat dijamin akan membuatnya semakin parah.

Kabar baiknya, Anda tidak perlu khawatir soal logistik. Di sepanjang jalan banyak sekali SPBU, tempat makan, hingga minimarket. Bahkan, beberapa minimarket menyediakan kursi untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan gas lagi.

Tips Agar Tidak Tersesat

Ada momen menarik saat di perjalanan. Saya bertemu pengendara lain yang sadar kalau kami searah sejak lama. Saat beristirahat di tempat yang sama, dia bertanya tujuan saya (mungkin karena melihat plat motor saya yang bukan BG). Setelah saya jelaskan ingin ke tempat gajah, dia langsung memberikan "ancer-ancer" atau patokan jalan. Katanya, banyak orang sering terlewat jika tidak tahu tandanya.

Patokannya ketika sudah melewati Kota Muara Enim berarti lokasinya sudah dekat dengan asumsi 30 menit perjalanan. Lokasinya di Desa Merapi (mohon koreksi jika saya salah nama desanya). kalau dari arah palembang nanti perhatikan sebelah kiri ada 2 patung gajah itu adalah pintu masuk menuju ke lokasinya tapi kemarin saya sempat terlewat karena terhalang baliho besar.

Setelah berbelok di patung tersebut, cukup ikuti Google Maps atau ikuti jalan utama saja karena jalannya tunggal. Anda akan melewati jalur kereta pengangkut batu bara dan perempatan jalur truk. Anda akan mudah membedakannya: jalur umum cenderung bersih, sementara jalur truk biasanya hitam pekat bekas ceceran batu bara.

Bertemu Tika dan Linda

Saat saya berkunjung, harga tiket masuknya hanya Rp15.000 per orang dan parkir Rp5.000. Angka yang sangat terjangkau, apalagi sudah bisa bayar menggunakan QRIS! Meski sempat terpikir apakah biaya segitu cukup untuk perawatan gajah, alhamdulillah gajah-gajah di sana terlihat sehat dan terawat.

Di sana ada dua gajah betina bernama Tika dan Linda. Begitu sampai, pawang gajah langsung menemani kami sambil bercerita bagaimana sejarah mereka bisa berada di pusat pelatihan ini. Pawang juga memberi edukasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan—contohnya, jika ingin memberi buah secara langsung, kita wajib menggunakan sarung tangan.

Penutup

Bagi teman-teman yang sedang liburan di Sumatera Selatan dan punya waktu luang, saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi Tika dan Linda. Sayangnya, saya belum punya informasi mengenai paket open trip dari Palembang menuju ke sini.

Jika ingin melihat visual perjalanan singkat saya, silakan mampir ke channel YouTube saya di @mhmmdrzn.

Terima kasih banyak sudah membaca, semoga kita berjumpa di tulisan selanjutnya!

Share:

Minggu, 15 Februari 2026

Road Trip Palembang - Bangka: Menikmati Perjalanan di Atas Roda Dua

Assalamualaikum, pernah terpikir tidak untuk menyeberang pulau menggunakan motor? Kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi melakukan perjalanan dari Palembang menuju Pulau Bangka. Mungkin di antara pembaca ada yang sudah pernah merasakan sensasi naik motor atau mobil menyeberangi selat, tapi bagi yang belum, tulisan ini bisa jadi gambaran buat kalian.

Persiapan dan Kondisi Jalan

Kalau kita cek di Google Maps, jarak dari Palembang ke Pelabuhan Tanjung Api-Api itu sekitar 73 km dengan estimasi waktu tempuh kurang lebih 1 jam 46 menit.

Namun, realitanya di lapangan bisa berbeda. Kondisi jalan menuju pelabuhan itu cukup kontras ada bagian yang mulus sekali, tapi ada juga yang rusak parah. Jadi, buat teman-teman yang mau menyusul jalur ini, harap ekstra hati-hati dan jangan terlalu terpaku pada estimasi waktu di aplikasi, ya!

Pilihan Penyeberangan: Kapal Cepat vs Kapal Ferry

Dulu, kita punya pilihan kapal cepat (Express Bahari) yang berangkat langsung dari pelabuhan di dalam kota Palembang. Sempat berhenti beroperasi, tapi kabar baiknya, berdasarkan info terbaru dari Instagram @expressbahari.id, layanan mereka sudah kembali aktif dan tiketnya bisa dipesan via aplikasi.

Tapi, kalau kalian membawa kendaraan sendiri seperti saya, pilihannya adalah melalui Pelabuhan Tanjung Api-Api menggunakan kapal Ferry (kapal roro).

Kenapa Gak Naik Pesawat Aja?

Banyak yang tanya, "Kenapa repot-repot motoran jauh? Kan ada uang, tinggal beli tiket pesawat, duduk manis, sampai."

Bagi saya, ini bukan soal capek atau tidak. Setiap orang punya cara sendiri untuk menikmati perjalanannya. Motoran jarak jauh bagi saya adalah cara untuk menyenangkan hati. Saya menikmati setiap kilometer yang terlewati tanpa harus terburu-buru, yang penting tetap waspada dan selamat sampai tujuan.

Fasilitas Sepanjang Jalan

Jangan khawatir soal bahan bakar atau perut lapar! Di sepanjang jalur menuju Tanjung Api-Api, setidaknya saya melihat ada 2 SPBU Besar dan beberapa unit Pertashop dan Banyak warung warga di pinggir jalan kalau kalian sekadar ingin berhenti untuk minum atau ngemil.

Info Tiket dan Penyeberangan

Kapal dari Tanjung Api-Api menuju Pelabuhan Tanjung Kalian (Muntok) ini melayani penumpang orang maupun kendaraan. Untuk Penumpang perorangan Rp50.000, sedangkan untuk kendaraan bermotor Rp.133.000. Harga tersebut adalah harga saat saya membeli langsung di loket pelabuhan. Namun, per akhir Desember kemarin, sistem pembelian tiket sudah mulai diarahkan secara online melalui website . Pastikan kalian cek dulu secara berkala ya!

Buat kalian yang ingin melihat visual perjalanannya secara langsung, mampir yuk ke channel YouTube saya di @mhmmdrzn. Di sana saya bagikan lebih detail suasana perjalanannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat buat kalian yang sedang merencanakan road trip dari Palembang ke Bangka. Keep safe on the road!

Share:

Senin, 05 Januari 2026

Pindang Palembang, Perpaduan Rasa yang Memikat Hati

 Assalamualaikum

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas kelezatan pempek dan cuko khas Palembang. Sebenarnya, kuliner Palembang masih sangat kaya dan tidak berhenti di situ. Kali ini, mari kita eksplor salah satu hidangan lain yang tak kalah populernya, yaitu Pindang.

Secara sederhana, pindang adalah hidangan berkuah yang menawarkan perpaduan rasa yang unik: asam, manis, pedas, dan gurih berpadu dengan aroma segar dari daun kemangi. Berbagai varian pindang yang umum ditemui antara lain terbuat dari ikan patin, ikan gabus, ikan baung, ikan salai (ikan asap), daging sapi, atau udang.

Jika ditanyakan mana varian yang paling recommended, pilihan pribadi saya jatuh pada Pindang Ikan Patin. Alasannya, tekstur daging ikan patin cenderung lebih lembut dan "nyatu" dengan kuahnya dibandingkan jenis ikan lain, sehingga memberikan pengalaman makan yang sangat memuaskan. Namun, selera memang hal yang subyektif, dan Anda mungkin justru menemukan favorit sendiri.

Berdasarkan pengalaman mencoba berbagai pindang di Palembang, setidaknya ada beberapa jenis yang cukup menonjol. Pindang Pegagan memiliki kuah berwarna agak kuning, diduga dari penggunaan kunyit. Lalu ada Pindang Meranjat dengan kuah kecokelatan yang kaya rasa, kemungkinan dari campuran calok atau terasi. Tak kalah menarik, Pindang Musi Rawas hadir dengan kuah yang lebih bening namun tetap kaya akan citarasa.

Jadi, bagi Anda yang berencana berkunjung ke Palembang dengan tujuan menikmati pempek, sangat saya sarankan untuk juga menyempatkan diri mencoba pindang. Hidangan ini layak masuk dalam daftar kuliner yang wajib dicoba!

Share:

Rabu, 29 Oktober 2025

Pengalaman 6 Tahun Menjelajahi Pempek di Sumatera

Assalamualaikum.

Sudah kurang lebih enam tahun saya tinggal di Kota Palembang. Selama periode tersebut, saya berkesempatan untuk mengunjungi kota-kota lain di Sumatera seperti Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Pangkalpinang. Hal yang menarik, setiap kota yang saya sebutkan ternyata memiliki hidangan khas yang sama: pempek.

Awalnya, saya berkesimpulan bahwa pempek di kota-kota tersebut mungkin dibuka oleh perantau asli Palembang yang membuka usaha di tempat baru. Namun, ada satu hal yang membantah dugaan saya, yaitu perbedaan pada Cuko (atau sering disebut Cuka).

Cuko adalah saus cocolan atau "sambal"-nya pempek. Keberadaannya sangat penting, rasanya kurang lengkap makan pempek tanpa cuko ini. Cuko khas Palembang identik dengan warna coklat gelap, hampir kehitaman, karena berbahan dasar gula aren yang pekat. Namun, di Pangkalpinang, saya menemukan cuko dengan warna lebih merah karena tidak menggunakan gula aren dan memiliki rasa yang lebih asam.

Berdasarkan pengalaman saya, cuko dari Palembang memiliki cita rasa yang paling seimbang. Keseimbangan antara manis, asam, bawang putih, dan pedasnya terasa pas. Sementara di kota lain, cuko cenderung lebih manis dan tidak terlalu pedas. Mungkin ini disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.

Oh iya, ada budaya unik di Palembang yang disebut "Ngirop Cuko". Secara sederhana, ini artinya meminum sisa cuko langsung dari piring setelah pempek habis. Jadi, jangan heran jika anda melihatnya saat makan pempek di Palembang, karena bagi sebagian orang, meminum cuko adalah puncak kenikmatan dari menyantap pempek.

Namun, perlu diingat untuk berhati-hati, terutama bagi yang memiliki masalah gula darah. Meskipun terbuat dari gula aren yang dianggap lebih sehat, cuko tetap berpotensi memicu kenaikan gula darah jika dikonsumsi berlebihan.
Share:

Minggu, 26 Oktober 2025

Smartband Ringan, Fitur Lengkap, tapi Cepat Panas? Ini Cerita Saya dengan Huawei Band 10

Assalamualaikum, 

kali ini saya mau cerita tentang salah satu alat yang hampir nggak pernah lepas dari pergelangan tangan saya Huawei Band 10. Buat sebagian orang mungkin ini cuma jam tangan digital, tapi buat saya, fungsinya jauh lebih dari itu.

Saya termasuk orang yang suka gonta-ganti smartband. Dulu sempat pakai Xiaomi, terus pindah ke CMF Nothing, dan sekarang balik lagi ke Huawei (yang sudah dua kali saya coba). Bukan karena saya nggak setia, tapi lebih karena penasaran: smartband mana sih yang paling cocok buat kebutuhan harian saya?

Awalnya saya pakai smartband cuma buat lihat waktu dan jumlah langkah, ya, bonusnya biar tahu juga apakah hari itu saya cukup aktif atau nggak. Tapi makin ke sini, produsen smartband makin kreatif. Fitur-fitur kesehatan mulai bermunculan: mulai dari detak jantung, pemantauan tidur, sampai pengingat buat gerak kalau kita kelamaan duduk. Semua itu bikin saya makin tertarik nyobain model-model baru.

Yang menarik, sekarang harga smartband juga sudah makin terjangkau. Kalau dulu cuma merek-merek besar yang berani jual dengan harga tinggi, sekarang hampir semua orang bisa punya. Nggak heran kalau makin banyak yang pakai.

Sebelum ke Huawei Band 10, saya sempat pakai CMF Nothing 2 Pro. Desainnya keren, tampilannya juga oke banget. Tapi begitu dipakai sehari-hari, ternyata agak ribet. Fiturnya kurang responsif dan notifikasinya kadang telat. Dari situ saya merasa, ya sudah, yang penting fungsi, bukan gaya. Akhirnya saya balik lagi ke Huawei, kali ini dengan Band 10.

Walaupun Huawei Band 10 ini belum punya fitur GPS bawaan, saya tetap puas karena alasan utama saya beli adalah jam dan notifikasi. Untuk kebutuhan itu, dia bekerja dengan sangat baik. Chat WhatsApp, panggilan masuk, semua bisa tampil dengan jelas di layar tinggal kita atur saja notifikasi mana yang mau ditampilkan.

Tapi ada satu hal yang bikin saya sedikit kecewa. Waktu itu saya lagi keluar rumah pas siang matahari lagi terik banget. Tiba-tiba smartband saya mati begitu saja tanpa saya sadar. Saya pikir baterainya habis, ternyata nggak. Kemungkinan besar karena panas matahari langsung yang bikin perangkatnya overheat.

Dari situ saya sadar, Huawei Band 10 ini memang lebih cocok buat aktivitas harian di dalam ruangan atau cuaca normal. Kalau terlalu lama di bawah sinar matahari, dia kayaknya belum kuat. Tapi ya, mungkin ini juga wajar karena beberapa smartband lain pun ada yang mengalami hal serupa. Bedanya, merek-merek besar yang sudah lama di dunia wearable biasanya punya teknologi pelindung panas yang lebih baik.

Jadi, buat kamu yang lagi cari smartband dengan tampilan simpel, baterai awet, dan notifikasi yang cepat Huawei Band 10 bisa jadi pilihan menarik. Asal jangan dipakai jogging siang hari di bawah matahari terik ya, nanti bisa “pingsan” duluan sebelum kamu selesai lari

Share:

Minggu, 01 Maret 2020

Toll Palembang - Lampung


Assalamualaikum, saya akan bercerita beberapa pengalaman saya melewati Toll Palembang ke Bandar lampung. Sebenernya kurang penting nyeritain toll karena di media internet atau media televisi pasti banyak yang sudah memberitakan beropersinya Toll Palembang – Bandar Lampung. Kenapa sih saya mau menceritakan Toll? Jawabannya dikota kelahiran saya tidak ada Jalur Toll jadi saya penasaran.

Pagi Hari tanggal 24 Desember 2019 saudara sepupu telpon untuk mengajak liburan kelampung dan sekalian untuk membuktikan kata-kata temennya kalau Palembang – Bandar Lampung lebih kurang 3 jam setengah. Pagi itu berangkatlah kami ke lampung menggunakan mobil saudara.

Minimnya informasi yang kami punya berapakah biaya toll dari Palembang ke Bandar Lampung, masuk dari pintu toll mana pun kami masih belum jelas, karena ada beberapa orang bilang kalau pintu toll terdekat dari Palembang itu pintu toll Jakabaring belum bisa di lalui jadi harus masuk toll kayu agung. Jarak dari kota Palembang cukup jauh kalau harus muter ke kayu agung terlebih dahulu.

Tanpa menghiraukan informasi kami coba aja masuk pintu toll jakabaring. Alhamdulillahnya bisa digunakan pintu toll tersebut walaupun masih ada beberapa pekerja yang masih sibuk di sekitar situ. Saya berasumsi ini mungkin karena libur natal kali yah makanya di buka dulu biar tidak macet pada pintu masuk toll kayu agung.

Kondisi Jalanan
Ilustrasi foto dari https://www.pexels.com
Jalan Toll dari Palembang ke  lampung ini cenderung mulus karena tidak banyak jalan yang begelom bang kecuali ketika melewati jembatan. Akan tetapi ketika masuk ke perbatasan Palembang lampung jalannya mulai terasa sangat bergelombang walaupun bukan kayak gelombang air laut. Jadi kalau untuk yang menggunakan lajur kanan ketika mendahului sangat disarankan untuk lebih berhati hati.




Fasilitas
Karena masih dibuka lajur Palembang – Lampung ini, untuk rest area dirasa belum mumpuni karena terkesan masih seadanya, seperti Toilet masih bilik – bilik toilet portable yang tak jarang kesannya masih jorok karena pengguna toilet tersebut masih kurang peduli kebersihan. Warung makan juga masih seadanya juga, tempat sholat dan pengisian BBM ada di setiap Rest Area.

Kebetulan pas balik dari Lampung ke Palembang sore hari jadi kena perjalanan malam, Nah Minimnya Lampu jalan di Toll ini jadi harus lebih hati-hati atau mungkin masih bertahap tapi yah harus tetap berhati-hati kalau yang melakukan perjalanan malam hari.

Petunjuk Jalan sangat jelas, nomor bantuan toll juga banyak sepanjang jalan toll jadi kalau kendaraan kita ada masalah bisa lah kita ga perlu panik. Google maps juga berfungsi baik disini dan sangat disarannkan mapsnya google di download dulu yah karena ada dibeberapa titik sinyal bakal hilang. Tapi kan di toll ga mungkin kesasar yah karena jalannya Cuma lurus aja, beloknya pas keluar dari toll.

Pembayaran masih Bisa Cashless atau Cash.
Ilustrasi foto dari https://www.pexels.com
Saya kurang paham, apakah Toll Palembang – Lampung ini nantinya akan full Cashless atau tidak yang jelas ketika saya masuk ke toll harus tap kartu e-money atau sejenisnya lah. Tapi kita masih bisa juga bayar cash karena ada petugas yang menunggu didekat kita harus tempelkan e-money kita. Pastikan saldo e-money kita cukup yah biar kalau pas bayar toll kita ga harus minta top up ke petugas toll nanti dikenakan biaya tambahan Rp. 10.000 (sepuluh ribu) per top up. Lumayan angkanya buat bisa beli cilok, hehehe

Oh iya, ternyata jalan toll Palembang – Lampung waktu tempuh lebih kurang tiga jam loh. Kalau menurut orang-orang kalau kita menggunakan jalur lintas Sumatra bisa memakan waktu tempuh lebih kurang 8 jam  ini Cuma 3 jam bisa hemat waktu 5 jam. Tapi kan kalau perjalanan via toll ini tergantung kita menyesuikan kecepatannya yang penting selamat sampai tujuan. Sepertinya itu pengalaman yang saya rasanya pertama nyoba jalur toll yang ada di sumatera.
Sampai Berjumpa di tulisan selanjutnya.

Share:

Rabu, 26 Februari 2020

Ke Kampung Pempek Buat Makan Pempek Dong...

Assalamualaikum, masih lanjut lagi cerita dari kota palembang. Kali ini saya akan bercerita salah satu makanan yang terkenal di palembang. Pempek salah satu ciri khas makanannya dan sampe ada lagu nya juga loh coba aja cari “pempek lenjer” dan selamat datang di palembang deh. Ada banyak sekali yang jual pempek di palembang ini mulai dari yang seribuan sampe yang lebih dari lima ribu mungkin yah.
Karena Sebuah Cerita, Akhirnya jadi penasaran.
Sebenernya banyak pempek yang terkenal di kota palembang ini. Tapi pada saat menemani tamu kantor cari makan siang, driver kantor bercerita kalau di palembang ini mau coba pempek yang beda dari pempek yang udah terkenal mampir dan cobalah makan pempek di kampung pempek. Sebenernya mau langsung kesana tapi tamu saat itu carinya bukan pempek sayangnya, hehe.
Awal mula dari situ lah akhirnya saya bernagkat ke kampung pempek di jalan mujahiddin 26 ilir palembang. Sempet cari – cari informasi terkait transportasi menuju kesana karena kalau mau di hitung-hitung pakai transportasi online lumayan juga mengeluarkan uangnya, akhirnya dapet info naik angkot yang harganya Cuma Rp. 4.000,- sekali jalan mau dekat ataupun jauh.
Semua Jualan Pempek di Kampung Pempek dan Bisa Bawa Pulang Buat Oleh-Oleh.
Ketika turun dari dari angkot kita sudah disambut dengan hamparan parkir liat yang berjejer karena banyak sekali orang yang makan pempek di kampung pempek. Sempet mikir ini orang bisa menghabiskan berapa ton pempek yah dalam 1 (satu) hari kalau pengunjungnya sebanyak ini.
Dari gapura sebetulnya sudah banyak yang berjualan pempek dipinggiran dengan berbagai macam jenis dengan harga yang beragam. Sengaja sebelum masuk ke salah satu kedai pempeknya saya telusuri dulu sepanjang jalan dan memang benar sepanjang lorong/kampung ini dominan jualan pempek.
Hampir rata-rata toko di kampung pempek menulis menjual pempek mulai dari Rp.1.000,-/pcs untuk ukuran yang kecil-kecil. Akhirnya saya memilih masuk kesalah satu toko yang ada di kampung pempek ini. Ketika masuk dan langsung cari tempat duduk kita langsung di hidangkan 1(satu) piring pempek yang ber ukuran kecil dengan banyak macam variannya.
Setelah kita dihidangi pempek 1 piring kita akan ditanya pelayannya mau pesen kapal selam goreng atau basah. Luar biasa yah mau makan pempek malah ditawari kapal selam dan bisa di goreng loh, haha. Jadi selain yang pempek kecil-kecil tadi nanti kita ditawari pempek kapal selam, pempek lenjer, model, tekwan. Berhubung perut saya kecil saya Cuma pilih kapal selam goreng saja.
Oh iya, di area ini semua toko hampir menuliskan kalau pempek yang mereka buat menggunakan ikan gabus. Kalau yang ga tau silah cari di google yah, hehe. Dari segi rasa memang sangat berbeda dengan pempek yang sudah terkenal di area palembang ini dibandingkan yang ada dikampung pempek ini. Tapi balik lagi ke selera masing-masing kalau masalah rasa. Tapi kalau penasaran boleh kok coba makanan yang ada disini.
Kalau dibilang mahal atau tidaknya tergantung kalian menghabiskan berapa banyak makan di sini. Makin banyak pastinya makin banyak dong bayarnya. Semua yang ada di kampung pempek ini bisa banget loh dibawa pulang buat oleh-oleh untuk kalian yang memang lagi berkunjung ke kota palembang.
Mungkin sekian aja cerita berkunjung ke kampung pempek, ditunggu ceritanya di kota palembang ini.
Share: