Senin, 05 Januari 2026

Pindang Palembang, Perpaduan Rasa yang Memikat Hati

 Assalamualaikum

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas kelezatan pempek dan cuko khas Palembang. Sebenarnya, kuliner Palembang masih sangat kaya dan tidak berhenti di situ. Kali ini, mari kita eksplor salah satu hidangan lain yang tak kalah populernya, yaitu Pindang.

Secara sederhana, pindang adalah hidangan berkuah yang menawarkan perpaduan rasa yang unik: asam, manis, pedas, dan gurih berpadu dengan aroma segar dari daun kemangi. Berbagai varian pindang yang umum ditemui antara lain terbuat dari ikan patin, ikan gabus, ikan baung, ikan salai (ikan asap), daging sapi, atau udang.

Jika ditanyakan mana varian yang paling recommended, pilihan pribadi saya jatuh pada Pindang Ikan Patin. Alasannya, tekstur daging ikan patin cenderung lebih lembut dan "nyatu" dengan kuahnya dibandingkan jenis ikan lain, sehingga memberikan pengalaman makan yang sangat memuaskan. Namun, selera memang hal yang subyektif, dan Anda mungkin justru menemukan favorit sendiri.

Berdasarkan pengalaman mencoba berbagai pindang di Palembang, setidaknya ada beberapa jenis yang cukup menonjol. Pindang Pegagan memiliki kuah berwarna agak kuning, diduga dari penggunaan kunyit. Lalu ada Pindang Meranjat dengan kuah kecokelatan yang kaya rasa, kemungkinan dari campuran calok atau terasi. Tak kalah menarik, Pindang Musi Rawas hadir dengan kuah yang lebih bening namun tetap kaya akan citarasa.

Jadi, bagi Anda yang berencana berkunjung ke Palembang dengan tujuan menikmati pempek, sangat saya sarankan untuk juga menyempatkan diri mencoba pindang. Hidangan ini layak masuk dalam daftar kuliner yang wajib dicoba!

Share:

Rabu, 29 Oktober 2025

Pengalaman 6 Tahun Menjelajahi Pempek di Sumatera

Assalamualaikum.

Sudah kurang lebih enam tahun saya tinggal di Kota Palembang. Selama periode tersebut, saya berkesempatan untuk mengunjungi kota-kota lain di Sumatera seperti Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Pangkalpinang. Hal yang menarik, setiap kota yang saya sebutkan ternyata memiliki hidangan khas yang sama: pempek.

Awalnya, saya berkesimpulan bahwa pempek di kota-kota tersebut mungkin dibuka oleh perantau asli Palembang yang membuka usaha di tempat baru. Namun, ada satu hal yang membantah dugaan saya, yaitu perbedaan pada Cuko (atau sering disebut Cuka).

Cuko adalah saus cocolan atau "sambal"-nya pempek. Keberadaannya sangat penting, rasanya kurang lengkap makan pempek tanpa cuko ini. Cuko khas Palembang identik dengan warna coklat gelap, hampir kehitaman, karena berbahan dasar gula aren yang pekat. Namun, di Pangkalpinang, saya menemukan cuko dengan warna lebih merah karena tidak menggunakan gula aren dan memiliki rasa yang lebih asam.

Berdasarkan pengalaman saya, cuko dari Palembang memiliki cita rasa yang paling seimbang. Keseimbangan antara manis, asam, bawang putih, dan pedasnya terasa pas. Sementara di kota lain, cuko cenderung lebih manis dan tidak terlalu pedas. Mungkin ini disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.

Oh iya, ada budaya unik di Palembang yang disebut "Ngirop Cuko". Secara sederhana, ini artinya meminum sisa cuko langsung dari piring setelah pempek habis. Jadi, jangan heran jika anda melihatnya saat makan pempek di Palembang, karena bagi sebagian orang, meminum cuko adalah puncak kenikmatan dari menyantap pempek.

Namun, perlu diingat untuk berhati-hati, terutama bagi yang memiliki masalah gula darah. Meskipun terbuat dari gula aren yang dianggap lebih sehat, cuko tetap berpotensi memicu kenaikan gula darah jika dikonsumsi berlebihan.
Share:

Minggu, 26 Oktober 2025

Smartband Ringan, Fitur Lengkap, tapi Cepat Panas? Ini Cerita Saya dengan Huawei Band 10

Assalamualaikum, 

kali ini saya mau cerita tentang salah satu alat yang hampir nggak pernah lepas dari pergelangan tangan saya Huawei Band 10. Buat sebagian orang mungkin ini cuma jam tangan digital, tapi buat saya, fungsinya jauh lebih dari itu.

Saya termasuk orang yang suka gonta-ganti smartband. Dulu sempat pakai Xiaomi, terus pindah ke CMF Nothing, dan sekarang balik lagi ke Huawei (yang sudah dua kali saya coba). Bukan karena saya nggak setia, tapi lebih karena penasaran: smartband mana sih yang paling cocok buat kebutuhan harian saya?

Awalnya saya pakai smartband cuma buat lihat waktu dan jumlah langkah, ya, bonusnya biar tahu juga apakah hari itu saya cukup aktif atau nggak. Tapi makin ke sini, produsen smartband makin kreatif. Fitur-fitur kesehatan mulai bermunculan: mulai dari detak jantung, pemantauan tidur, sampai pengingat buat gerak kalau kita kelamaan duduk. Semua itu bikin saya makin tertarik nyobain model-model baru.

Yang menarik, sekarang harga smartband juga sudah makin terjangkau. Kalau dulu cuma merek-merek besar yang berani jual dengan harga tinggi, sekarang hampir semua orang bisa punya. Nggak heran kalau makin banyak yang pakai.

Sebelum ke Huawei Band 10, saya sempat pakai CMF Nothing 2 Pro. Desainnya keren, tampilannya juga oke banget. Tapi begitu dipakai sehari-hari, ternyata agak ribet. Fiturnya kurang responsif dan notifikasinya kadang telat. Dari situ saya merasa, ya sudah, yang penting fungsi, bukan gaya. Akhirnya saya balik lagi ke Huawei, kali ini dengan Band 10.

Walaupun Huawei Band 10 ini belum punya fitur GPS bawaan, saya tetap puas karena alasan utama saya beli adalah jam dan notifikasi. Untuk kebutuhan itu, dia bekerja dengan sangat baik. Chat WhatsApp, panggilan masuk, semua bisa tampil dengan jelas di layar tinggal kita atur saja notifikasi mana yang mau ditampilkan.

Tapi ada satu hal yang bikin saya sedikit kecewa. Waktu itu saya lagi keluar rumah pas siang matahari lagi terik banget. Tiba-tiba smartband saya mati begitu saja tanpa saya sadar. Saya pikir baterainya habis, ternyata nggak. Kemungkinan besar karena panas matahari langsung yang bikin perangkatnya overheat.

Dari situ saya sadar, Huawei Band 10 ini memang lebih cocok buat aktivitas harian di dalam ruangan atau cuaca normal. Kalau terlalu lama di bawah sinar matahari, dia kayaknya belum kuat. Tapi ya, mungkin ini juga wajar karena beberapa smartband lain pun ada yang mengalami hal serupa. Bedanya, merek-merek besar yang sudah lama di dunia wearable biasanya punya teknologi pelindung panas yang lebih baik.

Jadi, buat kamu yang lagi cari smartband dengan tampilan simpel, baterai awet, dan notifikasi yang cepat Huawei Band 10 bisa jadi pilihan menarik. Asal jangan dipakai jogging siang hari di bawah matahari terik ya, nanti bisa “pingsan” duluan sebelum kamu selesai lari

Share:

Minggu, 01 Maret 2020

Toll Palembang - Lampung


Assalamualaikum, saya akan bercerita beberapa pengalaman saya melewati Toll Palembang ke Bandar lampung. Sebenernya kurang penting nyeritain toll karena di media internet atau media televisi pasti banyak yang sudah memberitakan beropersinya Toll Palembang – Bandar Lampung. Kenapa sih saya mau menceritakan Toll? Jawabannya dikota kelahiran saya tidak ada Jalur Toll jadi saya penasaran.

Pagi Hari tanggal 24 Desember 2019 saudara sepupu telpon untuk mengajak liburan kelampung dan sekalian untuk membuktikan kata-kata temennya kalau Palembang – Bandar Lampung lebih kurang 3 jam setengah. Pagi itu berangkatlah kami ke lampung menggunakan mobil saudara.

Minimnya informasi yang kami punya berapakah biaya toll dari Palembang ke Bandar Lampung, masuk dari pintu toll mana pun kami masih belum jelas, karena ada beberapa orang bilang kalau pintu toll terdekat dari Palembang itu pintu toll Jakabaring belum bisa di lalui jadi harus masuk toll kayu agung. Jarak dari kota Palembang cukup jauh kalau harus muter ke kayu agung terlebih dahulu.

Tanpa menghiraukan informasi kami coba aja masuk pintu toll jakabaring. Alhamdulillahnya bisa digunakan pintu toll tersebut walaupun masih ada beberapa pekerja yang masih sibuk di sekitar situ. Saya berasumsi ini mungkin karena libur natal kali yah makanya di buka dulu biar tidak macet pada pintu masuk toll kayu agung.

Kondisi Jalanan
Ilustrasi foto dari https://www.pexels.com
Jalan Toll dari Palembang ke  lampung ini cenderung mulus karena tidak banyak jalan yang begelom bang kecuali ketika melewati jembatan. Akan tetapi ketika masuk ke perbatasan Palembang lampung jalannya mulai terasa sangat bergelombang walaupun bukan kayak gelombang air laut. Jadi kalau untuk yang menggunakan lajur kanan ketika mendahului sangat disarankan untuk lebih berhati hati.




Fasilitas
Karena masih dibuka lajur Palembang – Lampung ini, untuk rest area dirasa belum mumpuni karena terkesan masih seadanya, seperti Toilet masih bilik – bilik toilet portable yang tak jarang kesannya masih jorok karena pengguna toilet tersebut masih kurang peduli kebersihan. Warung makan juga masih seadanya juga, tempat sholat dan pengisian BBM ada di setiap Rest Area.

Kebetulan pas balik dari Lampung ke Palembang sore hari jadi kena perjalanan malam, Nah Minimnya Lampu jalan di Toll ini jadi harus lebih hati-hati atau mungkin masih bertahap tapi yah harus tetap berhati-hati kalau yang melakukan perjalanan malam hari.

Petunjuk Jalan sangat jelas, nomor bantuan toll juga banyak sepanjang jalan toll jadi kalau kendaraan kita ada masalah bisa lah kita ga perlu panik. Google maps juga berfungsi baik disini dan sangat disarannkan mapsnya google di download dulu yah karena ada dibeberapa titik sinyal bakal hilang. Tapi kan di toll ga mungkin kesasar yah karena jalannya Cuma lurus aja, beloknya pas keluar dari toll.

Pembayaran masih Bisa Cashless atau Cash.
Ilustrasi foto dari https://www.pexels.com
Saya kurang paham, apakah Toll Palembang – Lampung ini nantinya akan full Cashless atau tidak yang jelas ketika saya masuk ke toll harus tap kartu e-money atau sejenisnya lah. Tapi kita masih bisa juga bayar cash karena ada petugas yang menunggu didekat kita harus tempelkan e-money kita. Pastikan saldo e-money kita cukup yah biar kalau pas bayar toll kita ga harus minta top up ke petugas toll nanti dikenakan biaya tambahan Rp. 10.000 (sepuluh ribu) per top up. Lumayan angkanya buat bisa beli cilok, hehehe

Oh iya, ternyata jalan toll Palembang – Lampung waktu tempuh lebih kurang tiga jam loh. Kalau menurut orang-orang kalau kita menggunakan jalur lintas Sumatra bisa memakan waktu tempuh lebih kurang 8 jam  ini Cuma 3 jam bisa hemat waktu 5 jam. Tapi kan kalau perjalanan via toll ini tergantung kita menyesuikan kecepatannya yang penting selamat sampai tujuan. Sepertinya itu pengalaman yang saya rasanya pertama nyoba jalur toll yang ada di sumatera.
Sampai Berjumpa di tulisan selanjutnya.

Share:

Rabu, 26 Februari 2020

Ke Kampung Pempek Buat Makan Pempek Dong...

Assalamualaikum, masih lanjut lagi cerita dari kota palembang. Kali ini saya akan bercerita salah satu makanan yang terkenal di palembang. Pempek salah satu ciri khas makanannya dan sampe ada lagu nya juga loh coba aja cari “pempek lenjer” dan selamat datang di palembang deh. Ada banyak sekali yang jual pempek di palembang ini mulai dari yang seribuan sampe yang lebih dari lima ribu mungkin yah.
Karena Sebuah Cerita, Akhirnya jadi penasaran.
Sebenernya banyak pempek yang terkenal di kota palembang ini. Tapi pada saat menemani tamu kantor cari makan siang, driver kantor bercerita kalau di palembang ini mau coba pempek yang beda dari pempek yang udah terkenal mampir dan cobalah makan pempek di kampung pempek. Sebenernya mau langsung kesana tapi tamu saat itu carinya bukan pempek sayangnya, hehe.
Awal mula dari situ lah akhirnya saya bernagkat ke kampung pempek di jalan mujahiddin 26 ilir palembang. Sempet cari – cari informasi terkait transportasi menuju kesana karena kalau mau di hitung-hitung pakai transportasi online lumayan juga mengeluarkan uangnya, akhirnya dapet info naik angkot yang harganya Cuma Rp. 4.000,- sekali jalan mau dekat ataupun jauh.
Semua Jualan Pempek di Kampung Pempek dan Bisa Bawa Pulang Buat Oleh-Oleh.
Ketika turun dari dari angkot kita sudah disambut dengan hamparan parkir liat yang berjejer karena banyak sekali orang yang makan pempek di kampung pempek. Sempet mikir ini orang bisa menghabiskan berapa ton pempek yah dalam 1 (satu) hari kalau pengunjungnya sebanyak ini.
Dari gapura sebetulnya sudah banyak yang berjualan pempek dipinggiran dengan berbagai macam jenis dengan harga yang beragam. Sengaja sebelum masuk ke salah satu kedai pempeknya saya telusuri dulu sepanjang jalan dan memang benar sepanjang lorong/kampung ini dominan jualan pempek.
Hampir rata-rata toko di kampung pempek menulis menjual pempek mulai dari Rp.1.000,-/pcs untuk ukuran yang kecil-kecil. Akhirnya saya memilih masuk kesalah satu toko yang ada di kampung pempek ini. Ketika masuk dan langsung cari tempat duduk kita langsung di hidangkan 1(satu) piring pempek yang ber ukuran kecil dengan banyak macam variannya.
Setelah kita dihidangi pempek 1 piring kita akan ditanya pelayannya mau pesen kapal selam goreng atau basah. Luar biasa yah mau makan pempek malah ditawari kapal selam dan bisa di goreng loh, haha. Jadi selain yang pempek kecil-kecil tadi nanti kita ditawari pempek kapal selam, pempek lenjer, model, tekwan. Berhubung perut saya kecil saya Cuma pilih kapal selam goreng saja.
Oh iya, di area ini semua toko hampir menuliskan kalau pempek yang mereka buat menggunakan ikan gabus. Kalau yang ga tau silah cari di google yah, hehe. Dari segi rasa memang sangat berbeda dengan pempek yang sudah terkenal di area palembang ini dibandingkan yang ada dikampung pempek ini. Tapi balik lagi ke selera masing-masing kalau masalah rasa. Tapi kalau penasaran boleh kok coba makanan yang ada disini.
Kalau dibilang mahal atau tidaknya tergantung kalian menghabiskan berapa banyak makan di sini. Makin banyak pastinya makin banyak dong bayarnya. Semua yang ada di kampung pempek ini bisa banget loh dibawa pulang buat oleh-oleh untuk kalian yang memang lagi berkunjung ke kota palembang.
Mungkin sekian aja cerita berkunjung ke kampung pempek, ditunggu ceritanya di kota palembang ini.
Share:

Kamis, 07 November 2019

Oh, Gini Yah Redmi AirDOts


Assalamualaikum, kali ini saya akan menulis kisah agak berbeda dari biasanya yang tentang mampir ketempat apa sekarang saya coba selipkan pengalaman saya menggunakan Bluetooth Earphone Redmi AirDots.

Sebelumnya saya sudah menggunakan Bluetooth Earphone Mi Headphone yang menurut saya sebetulnya dari awal keluar sampai tahun sekarang masih bagus-bagus aja dipakai karena fungsinya buat saya yah untuk telepon saja. Tapi karena kelalaian saya Earphone Mi Headphonenya kerendem pas cuci pakaian. Hihi

Sempet sedih awalnya karena menurut saya itu earphone paling kece deh buat denger kajian, musik ataupun telepon pas banget di telinga saya. Berhubung karena kelalaian saya akhirnya nasib earphone itu tidak bisa diselamatkan lagi (drama).

Bagi saya menggunakan earphone bluetooth ini lumayan membantu ketika ngetik sambil terima telepon atau menelpon. Kalau ga pakai earphone harus nempelin hp ke telinga secara muka ku ini bisa memproduksi minyak lebih banyak dari minyak kelapa sawit jadi sehabis menelpon aku kok liat layar HP kayak loyang habis di kasih margarin. Haha

Satu minggu setelah tiadanya earphone bluetooth, saya mulai iseng-iseng liat – liat orang review earphone bluetooth di youtube mulai dari yang paling bagus sampai yang paling biasa aja udah saya tonton. Entah kenapa kalau saya liat review orang di youtube bilang dengan harga segini bisa dapet kualitas ini dan itu. Eh pas cek ke situs jualan kok harganya udah naik semua yah L

Seminggu kemudian antara perlu ga perlu sebenernya akhirnya yah iseng aja cari-cari lagi di toko online cari harga sesuai dengan anggaran saya dong tentunya, hehe. Kalau sesuai dengan filternya harga terendah muncula Redmi Airdots. Tanpa pikirin hasil review yang saya liat di youtube di minggu sebelumnya karena harganya murah yaudah saya beli deh Redmi Airdots.

Kesan ketika barang diterima saya seneng akhirnya bisa punya earphone bluetooth lagi walaupun ga sering – sering banget dipake J. Pas buka kotaknya isinya eaphone beserta wadahnya, sama earbud cadangan 2 (dua) pasang dengan ukuran berbeda-beda dan buku panduan yang berbahasa mandarin tanpa bahasa inggris.

Kesan Pertama Sangat Menggoda
Ketika saya mengeluarkan earphone dari wadahnya lampu indikator di earphonenya menyala warna putih. Nah, pas pairing earphone ke hp nya ternyata sangat – sangat cepat sekali pas search langsung ketemu Redmi AirDots klik oke dan langsung connect. Begitu juga sisi earphone satunya sekali angkat dia langsung connect. Wah ini menurut saya kece banget lah connectnya cepet banget.

Serba Serbi Redmi Airdots

Kalau mau bandingin sama punya saya belumnya yah jelas beda karena untuk connectnya lama banget kadang malah sering putus sendiri pairingnya. Lanjut saya coba untuk denger musik ternyata asyik juga suara yang di keluarkan di earphone ini. Menurut saya sih balance lah suaranya mau jenis musik apapun enak deh suaranya. Ngomong – ngomong ini enak versi saya yah, hehe.

Untuk ketahanan baterainya earphone in termasuk agak lama habis batrenya walaupun saya pakai berapa jam buat telepon dan denger ceramah masih awet aja. Oh iya saya sarankan jangan gunakan earphone ini kiri dan kanan secara berbarengan yah kalau untuk aktivitas kantor karena dipastikan nanti kalian akan sedikit budeg nampaknya earphone ini ada semacam teknologi penghalau suara yg dari luar earphone (semoga pada tau istilahnya).

Ada kekurangan yang menurut saya sangat berpengaruh dari earphone ini. Inget kan di awal saya gunakan earphone ini untuk aktivitas ngetik sambil telepon. Sayangnya earphone ini kalau kita gunakan untuk telepon suara kita akan terdengar lebih kecil terdengarnya malah ada temen yang bilang saya lagi telepon di toilet yah kok bergema.

Mungkin ini berpengaruh karena bentuk earphonenya lebih mungil dari earphone saya yang sebelumnya jadi jarak earphone ke sumber suaranya jadi lebih jauh dan juga kalau kedua earphone ini terpasang untuk menelpon kita akan mendengar suara orang agak sedikit memantul semacam ada jeda antara yang kiri dan yang kanan. Saran saya lebih baik pakai satu sisi aja kalau untuk menelpon.

Mungkin segini aja kesan saya menggunakan earphone Redmi AirDots walaupun kualitas untuk teleponnya kurang oke tapi ga mungkin juga saya jual lagi takutnya ga ketemu lagi dengan harga yang murah lagi,hehe.





Share:

Selasa, 27 Agustus 2019

Seuprit Kisah LRT Palembang


Assalamualaikum semuanya, sesuai janji pada postingan sebelumnya saya akan berbagi cerita selama di Kota Palembang. Sebenernya termasuk sering sih dapat perintah tugas pelatihan di palembang. Kalau di ada pelatihan ke palembang bisanya ada jemputan tapi kali ini berbeda krena pindah tugas yah sebetulnya di jemput juga tapi saya memilih untuk naik transportasi umum aja lah.
Dibandara palembang untuk transportasinya termasuk banyak pilihan, kalau yang sepengamatan saya adanya taksi non online dan taksi online serta ada juga LRT. karena di kota saya sebelumnya tidak ada transportasi LRT ini jadi saya memilih untuk ketujuan saya menggunakan LRT dengan alasan apakah ini lebih cepet, efisien serta nyaman.
Jalan Menuju Ke Stasiun Masih Kurang Nyaman Dengan Barang Bawaan Banyak.
Pertama kali sampai palembang dengan barang bawaan yang sebetulnya tidak sedikit saya kok bisa – bisanya yah memilih memilih menggunakan LRT? apa karena saya sangat antusias mau naik LRT untuk pertama kali yah makanya saya malah memilih naik LRT atau karena saya mau pamer ke saudara – saudara saya kalau saya udah naik LRT, hahaha maklumin yah kalau saya udik.
Lanjut lagi yah, untuk menuju stasiun LRT dari pintu keluar bandara kita langsung saja ke arah kanan nanti perhatikan aja tanda – tandanya sangat jelas. kalau kita membawa banyak barang tentu saja akan kesusahan dikarenakan jalan menuju stasiun yang tergolong cukup jauh dan trolly tidak bisa di bawa sampai stasiun. Jadi sangat disarankan kalau kalian mau menggunakan transportasi LRT ini tidak banyak barang bawaan yah.
Jauh Dekat Cuma Rp. 10.000 yah sesuai lah . . .
Saat saya sampai ke stasiun suasana stasiun bisa di bilang sepi karena Cuma ada saya dan petugas – petugas saja yang ada. Pikirku apakah hanya aku yang naik ini LRT? yaudahlah langsung saja ke loket dan bertanya kalau “mba, kalau saya mau ke hatimu itu turun di stasiun apa yah?” dengan sigap mba nya jawab, mas plis kamu jangan bikin yang baca blogmu halu, hehe.
Jadi karena baru pertama naik LRT saya ditanya sama petugasnya mau tujuan kemana nanti kita akan di beritahu di stasiun mana kita akan berhenti. Terus saya bertanya berapa mba harga tiketnya?untuk ke tujuan mas ini hanya Rp. 10.000, saya nanya lagi misalnya saya mau ke paling ujung stasiun LRT ini brp mb? Sama aja kok mas, begitulah jawab mba petugasnya.
Waktu Tunggu dan Waktu Tempuh yang kurang pas!
Awalnya sampai di stasiun suasana sangat sepi, tapi perlahan penumpang yang lain berdatangan dan jarak saya beli tiket dengan mulai datangnya penumpang yang lain lebih kurang 20 menit dan kereta yang saya tunggu juga belum tiba, Karena pas saya tiba di stasiun keretanya baru saja berangkat. Mungkin itu kali penyebabnya saya sampai tadi sepi.
LRT Palembang ini memiliki 2 jalur kereta. Jadi kalau satu berangkat nunggu yang satu nya tiba. Sebetulnya ada jadwal kapan kereta itu tiba ataupun berangkat. Tapi dari jarak sayang menunggu sampai keretanya tiba dibisa dibilang cukup lama karena untuk waktu tunggunya hampir 45 menit. Untungnya saat itu lagi ga buru – buru jadi ga masalah nunggu agak lama.
Nah, selain waktu tunggu yang kurang efektif untuk kalian yang suka buru -  buru, waktu tempuh dari stasiun bandara ke stasiun yang mau saya tuju juga tergolong lama. Karena biasa dijemput pakai mobil dan sudah ditambah beberapa titik macet di palembang malah bisa di bilang lebih cepat menggunakan mobil ketimbang LRT ini.
Bersih dan Nyaman Loh
Ketika kereta tiba semua orang mulai mengambil ancang -  ancang untuk masuk kedalam kereta. Tapi sebelum masuk petugas mempersilahkan yang keluar kereta dahulu lewat semua baru bisa masuk, sebetulnya ini paling bener biar ga senggol-senggolan kan yah.
Ketika orang rebutan mau masuk saya sih santai aja maklum barang bawaan lumayan ribet kalau mau rebutan masuk secara gerbongnya juga banyak jadi ga takut kehabisan tempat duduk. Suasana didalam kereta yang begitu dingin dengan pemandangan kota palembang setiap perjalanannya sangat menarik dan nyaman lah selama perjalanan.

Jadi kesimpulannya naik LRT ini untuk kalian yang memang penasaran seperti saya ini boleh lah di coba transportasi ini selain bisa buat santai bisa melihat kota palembang dari atas LRT.  semoga kita berjumpa di cerita selanjutnya dikota palembang yah.


Share: