Assalamualaikum, semoga
teman-teman yang membaca tulisan blog ini selalu diberikan kesehatan. Aamiin.
Sebelum memulai, saya ingin
tanya: apakah teman-teman yang hobi nongkrong di coffeeshop atau warkop sudah
mulai terpikir untuk menyeduh kopi sendiri di rumah? Mungkin bahasa trennya
sekarang, "In this economy, nyeduh kopi di rumah lebih hemat ketimbang
sering-sering ke coffeeshop."
Namun belakangan ini, kalau saya
perhatikan di Threads, banyak sekali yang membahas bahwa niat awal ngopi di
rumah biar hemat, malah berakhir seperti terjebak dalam “jebakan batman”.
Pada balasan Threads tersebut,
netizen mulai saling pamer koleksi alat seduh dan beans (biji kopi) mulai dari
yang biasa sampai yang luar biasa harganya. Asumsi saya, total pengeluaran
mereka untuk hobi "hemat" ini bahkan bisa setara dengan harga satu
unit motor matic baru! Jujur saja, sebagai orang yang baru kenal dunia
perkopian, saya merasa hal itu sangat tidak relevan. Karena setahu saya,
menikmati secangkir kopi tidak harus serumit dan semahal itu.
Menyederhanakan Cara Ngopi
Bagi saya, eksplorasi kopi itu
soal lidah dan kenyamanan hati, bukan soal seberapa lengkap koleksi alat yang
berjejer di meja seduh. Setelah mencoba berbagai cara, saya menemukan bahwa
bahagia itu ternyata sederhana. Kita tidak butuh "laboratorium mini"
di rumah hanya untuk mendapatkan secangkir kopi yang nikmat.
Ada dua metode seduh yang
menurut saya paling membumi dan ramah di kantong:
1. Moka Pot
Ini adalah salah satu alat
favorit saya. Tanpa perlu listrik dan tanpa butuh teknik pouring (penuangan
air) khusus yang harus dipelajari berbulan-bulan. Cukup taruh di atas kompor,
tunggu suaranya mendesis, dan aroma espresso rumahan langsung memenuhi dapur.
Rasanya? Sangat "nendang" dan memiliki body yang tebal.
2. Kopi Tubruk
Ini adalah cara paling praktis
jikalau saya sedang malas pusing memikirkan berapa gram takarannya, berapa suhu
airnya, dan variabel rumit lainnya. Metode ini tidak pernah salah. Bagi saya,
esensi kopi yang sebenarnya ada di sini—sederhana dan apa adanya.
Kesimpulan: Nikmati Kopinya,
Bukan Alatnya
Jadi, buat teman-teman yang baru
mau mulai atau sedang merasa "lelah" mengikuti tren alat kopi yang
tidak ada habisnya, ingatlah satu hal: tujuan utama kita adalah menikmati
kopinya, bukan sekadar memiliki alatnya.
Eksplorasi rasa itu tentang
perjalanan lidah kita menemukan kecocokan, dan perjalanan itu bisa dimulai dari
alat klasik yang terjangkau seperti Moka Pot, atau bahkan segelas kopi tubruk.
"Tenang, tidak ada yang
benar atau salah dalam menikmati kopi. Semuanya kita sendiri yang
menentukan."
Kalau teman-teman sendiri
bagaimana? Lebih suka tim "minimalis" yang penting rasa, atau tim
yang mengikuti arus tren?
Mungkin dalam waktu dekat saya
akan membuat video saat menyeduh kopi menggunakan Moka Pot atau membuat kopi
tubruk di channel YouTube saya: @mhmmdrzn. Boleh banget dibantu like dan
subscribe-nya ya, teman-teman!
Terima kasih banyak sudah
membaca, sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

