Assalamualaikum, semoga yang membaca tulisan blog ini selalu diberikan kesehatan, amiin.
Kali ini saya ingin berbagi cerita pengalaman pertama saya "motoran" menuju Kota Lahat. Mungkin banyak orang mengenal Lahat karena kekayaan batu baranya. Benar saja, saat memasuki kota ini, pemandangan yang terlihat memang berbeda dari biasanya. Namun, bukan itu fokus utama cerita saya, melainkan tentang hewan bertubuh besar yang cerdas: Gajah Sumatera.
Persiapan dan Perjalanan
Perjalanan ini saya mulai dari Kota Palembang. Berdasarkan kalkulasi Google Maps, jaraknya kurang lebih 246 km. Waktu tempuhnya sendiri tergantung situasi, kemarin saya menghabiskan waktu hampir 6 jam di perjalanan.
Mengenai kondisi jalan, rute Palembang menuju pusat latihan gajah di Lahat ini tergolong variatif. Tidak semuanya mulus, tapi tidak juga rusak parah di semua titik. Namun, perlu menjadi catatan bagi pemerintah setempat agar segera memperbaiki bagian yang mulai rusak, karena jika telat, beban kendaraan yang lewat dijamin akan membuatnya semakin parah.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu khawatir soal logistik. Di sepanjang jalan banyak sekali SPBU, tempat makan, hingga minimarket. Bahkan, beberapa minimarket menyediakan kursi untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan gas lagi.
Tips Agar Tidak Tersesat
Ada momen menarik saat di perjalanan. Saya bertemu pengendara lain yang sadar kalau kami searah sejak lama. Saat beristirahat di tempat yang sama, dia bertanya tujuan saya (mungkin karena melihat plat motor saya yang bukan BG). Setelah saya jelaskan ingin ke tempat gajah, dia langsung memberikan "ancer-ancer" atau patokan jalan. Katanya, banyak orang sering terlewat jika tidak tahu tandanya.
Patokannya ketika sudah melewati Kota Muara Enim berarti lokasinya sudah dekat dengan asumsi 30 menit perjalanan. Lokasinya di Desa Merapi (mohon koreksi jika saya salah nama desanya). kalau dari arah palembang nanti perhatikan sebelah kiri ada 2 patung gajah itu adalah pintu masuk menuju ke lokasinya tapi kemarin saya sempat terlewat karena terhalang baliho besar.
Setelah berbelok di patung tersebut, cukup ikuti Google Maps atau ikuti jalan utama saja karena jalannya tunggal. Anda akan melewati jalur kereta pengangkut batu bara dan perempatan jalur truk. Anda akan mudah membedakannya: jalur umum cenderung bersih, sementara jalur truk biasanya hitam pekat bekas ceceran batu bara.
Bertemu Tika dan Linda
Saat saya berkunjung, harga tiket masuknya hanya Rp15.000 per orang dan parkir Rp5.000. Angka yang sangat terjangkau, apalagi sudah bisa bayar menggunakan QRIS! Meski sempat terpikir apakah biaya segitu cukup untuk perawatan gajah, alhamdulillah gajah-gajah di sana terlihat sehat dan terawat.
Di sana ada dua gajah betina bernama Tika dan Linda. Begitu sampai, pawang gajah langsung menemani kami sambil bercerita bagaimana sejarah mereka bisa berada di pusat pelatihan ini. Pawang juga memberi edukasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan—contohnya, jika ingin memberi buah secara langsung, kita wajib menggunakan sarung tangan.
Penutup
Bagi teman-teman yang sedang liburan di Sumatera Selatan dan punya waktu luang, saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi Tika dan Linda. Sayangnya, saya belum punya informasi mengenai paket open trip dari Palembang menuju ke sini.
Jika ingin melihat visual perjalanan singkat saya, silakan mampir ke channel YouTube saya di @mhmmdrzn.
Terima kasih banyak sudah membaca, semoga kita berjumpa di tulisan selanjutnya!