Rabu, 29 Oktober 2025

Pengalaman 6 Tahun Menjelajahi Pempek di Sumatera

Assalamualaikum.

Sudah kurang lebih enam tahun saya tinggal di Kota Palembang. Selama periode tersebut, saya berkesempatan untuk mengunjungi kota-kota lain di Sumatera seperti Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Pangkalpinang. Hal yang menarik, setiap kota yang saya sebutkan ternyata memiliki hidangan khas yang sama: pempek.

Awalnya, saya berkesimpulan bahwa pempek di kota-kota tersebut mungkin dibuka oleh perantau asli Palembang yang membuka usaha di tempat baru. Namun, ada satu hal yang membantah dugaan saya, yaitu perbedaan pada Cuko (atau sering disebut Cuka).

Cuko adalah saus cocolan atau "sambal"-nya pempek. Keberadaannya sangat penting, rasanya kurang lengkap makan pempek tanpa cuko ini. Cuko khas Palembang identik dengan warna coklat gelap, hampir kehitaman, karena berbahan dasar gula aren yang pekat. Namun, di Pangkalpinang, saya menemukan cuko dengan warna lebih merah karena tidak menggunakan gula aren dan memiliki rasa yang lebih asam.

Berdasarkan pengalaman saya, cuko dari Palembang memiliki cita rasa yang paling seimbang. Keseimbangan antara manis, asam, bawang putih, dan pedasnya terasa pas. Sementara di kota lain, cuko cenderung lebih manis dan tidak terlalu pedas. Mungkin ini disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.

Oh iya, ada budaya unik di Palembang yang disebut "Ngirop Cuko". Secara sederhana, ini artinya meminum sisa cuko langsung dari piring setelah pempek habis. Jadi, jangan heran jika anda melihatnya saat makan pempek di Palembang, karena bagi sebagian orang, meminum cuko adalah puncak kenikmatan dari menyantap pempek.

Namun, perlu diingat untuk berhati-hati, terutama bagi yang memiliki masalah gula darah. Meskipun terbuat dari gula aren yang dianggap lebih sehat, cuko tetap berpotensi memicu kenaikan gula darah jika dikonsumsi berlebihan.
Share:

Minggu, 26 Oktober 2025

Smartband Ringan, Fitur Lengkap, tapi Cepat Panas? Ini Cerita Saya dengan Huawei Band 10

Assalamualaikum, 

kali ini saya mau cerita tentang salah satu alat yang hampir nggak pernah lepas dari pergelangan tangan saya Huawei Band 10. Buat sebagian orang mungkin ini cuma jam tangan digital, tapi buat saya, fungsinya jauh lebih dari itu.

Saya termasuk orang yang suka gonta-ganti smartband. Dulu sempat pakai Xiaomi, terus pindah ke CMF Nothing, dan sekarang balik lagi ke Huawei (yang sudah dua kali saya coba). Bukan karena saya nggak setia, tapi lebih karena penasaran: smartband mana sih yang paling cocok buat kebutuhan harian saya?

Awalnya saya pakai smartband cuma buat lihat waktu dan jumlah langkah, ya, bonusnya biar tahu juga apakah hari itu saya cukup aktif atau nggak. Tapi makin ke sini, produsen smartband makin kreatif. Fitur-fitur kesehatan mulai bermunculan: mulai dari detak jantung, pemantauan tidur, sampai pengingat buat gerak kalau kita kelamaan duduk. Semua itu bikin saya makin tertarik nyobain model-model baru.

Yang menarik, sekarang harga smartband juga sudah makin terjangkau. Kalau dulu cuma merek-merek besar yang berani jual dengan harga tinggi, sekarang hampir semua orang bisa punya. Nggak heran kalau makin banyak yang pakai.

Sebelum ke Huawei Band 10, saya sempat pakai CMF Nothing 2 Pro. Desainnya keren, tampilannya juga oke banget. Tapi begitu dipakai sehari-hari, ternyata agak ribet. Fiturnya kurang responsif dan notifikasinya kadang telat. Dari situ saya merasa, ya sudah, yang penting fungsi, bukan gaya. Akhirnya saya balik lagi ke Huawei, kali ini dengan Band 10.

Walaupun Huawei Band 10 ini belum punya fitur GPS bawaan, saya tetap puas karena alasan utama saya beli adalah jam dan notifikasi. Untuk kebutuhan itu, dia bekerja dengan sangat baik. Chat WhatsApp, panggilan masuk, semua bisa tampil dengan jelas di layar tinggal kita atur saja notifikasi mana yang mau ditampilkan.

Tapi ada satu hal yang bikin saya sedikit kecewa. Waktu itu saya lagi keluar rumah pas siang matahari lagi terik banget. Tiba-tiba smartband saya mati begitu saja tanpa saya sadar. Saya pikir baterainya habis, ternyata nggak. Kemungkinan besar karena panas matahari langsung yang bikin perangkatnya overheat.

Dari situ saya sadar, Huawei Band 10 ini memang lebih cocok buat aktivitas harian di dalam ruangan atau cuaca normal. Kalau terlalu lama di bawah sinar matahari, dia kayaknya belum kuat. Tapi ya, mungkin ini juga wajar karena beberapa smartband lain pun ada yang mengalami hal serupa. Bedanya, merek-merek besar yang sudah lama di dunia wearable biasanya punya teknologi pelindung panas yang lebih baik.

Jadi, buat kamu yang lagi cari smartband dengan tampilan simpel, baterai awet, dan notifikasi yang cepat Huawei Band 10 bisa jadi pilihan menarik. Asal jangan dipakai jogging siang hari di bawah matahari terik ya, nanti bisa “pingsan” duluan sebelum kamu selesai lari

Share: