Kamis, 28 Mei 2026

NGOPI DIRUMAH GA MAHAL KOK!

Assalamualaikum, semoga teman-teman yang membaca tulisan blog ini selalu diberikan kesehatan. Aamiin.

Sebelum memulai, saya ingin tanya: apakah teman-teman yang hobi nongkrong di coffeeshop atau warkop sudah mulai terpikir untuk menyeduh kopi sendiri di rumah? Mungkin bahasa trennya sekarang, "In this economy, nyeduh kopi di rumah lebih hemat ketimbang sering-sering ke coffeeshop."

Namun belakangan ini, kalau saya perhatikan di Threads, banyak sekali yang membahas bahwa niat awal ngopi di rumah biar hemat, malah berakhir seperti terjebak dalam “jebakan batman”.

Pada balasan Threads tersebut, netizen mulai saling pamer koleksi alat seduh dan beans (biji kopi) mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa harganya. Asumsi saya, total pengeluaran mereka untuk hobi "hemat" ini bahkan bisa setara dengan harga satu unit motor matic baru! Jujur saja, sebagai orang yang baru kenal dunia perkopian, saya merasa hal itu sangat tidak relevan. Karena setahu saya, menikmati secangkir kopi tidak harus serumit dan semahal itu.

Menyederhanakan Cara Ngopi

Bagi saya, eksplorasi kopi itu soal lidah dan kenyamanan hati, bukan soal seberapa lengkap koleksi alat yang berjejer di meja seduh. Setelah mencoba berbagai cara, saya menemukan bahwa bahagia itu ternyata sederhana. Kita tidak butuh "laboratorium mini" di rumah hanya untuk mendapatkan secangkir kopi yang nikmat.

Ada dua metode seduh yang menurut saya paling membumi dan ramah di kantong:

1. Moka Pot

Ini adalah salah satu alat favorit saya. Tanpa perlu listrik dan tanpa butuh teknik pouring (penuangan air) khusus yang harus dipelajari berbulan-bulan. Cukup taruh di atas kompor, tunggu suaranya mendesis, dan aroma espresso rumahan langsung memenuhi dapur. Rasanya? Sangat "nendang" dan memiliki body yang tebal.

2. Kopi Tubruk

Ini adalah cara paling praktis jikalau saya sedang malas pusing memikirkan berapa gram takarannya, berapa suhu airnya, dan variabel rumit lainnya. Metode ini tidak pernah salah. Bagi saya, esensi kopi yang sebenarnya ada di sini—sederhana dan apa adanya.

Kesimpulan: Nikmati Kopinya, Bukan Alatnya

Jadi, buat teman-teman yang baru mau mulai atau sedang merasa "lelah" mengikuti tren alat kopi yang tidak ada habisnya, ingatlah satu hal: tujuan utama kita adalah menikmati kopinya, bukan sekadar memiliki alatnya.

Eksplorasi rasa itu tentang perjalanan lidah kita menemukan kecocokan, dan perjalanan itu bisa dimulai dari alat klasik yang terjangkau seperti Moka Pot, atau bahkan segelas kopi tubruk.

"Tenang, tidak ada yang benar atau salah dalam menikmati kopi. Semuanya kita sendiri yang menentukan."

Kalau teman-teman sendiri bagaimana? Lebih suka tim "minimalis" yang penting rasa, atau tim yang mengikuti arus tren?

Mungkin dalam waktu dekat saya akan membuat video saat menyeduh kopi menggunakan Moka Pot atau membuat kopi tubruk di channel YouTube saya: @mhmmdrzn. Boleh banget dibantu like dan subscribe-nya ya, teman-teman!

Terima kasih banyak sudah membaca, sampai jumpa di tulisan selanjutnya!


Share: